Sabtu, 30 Mei 2009

ELEGI PERBINCANGAN MATEMATIKA

ELEGI PERBINCANGAN MATEMATIKA

Angka :

Aku adalah angka. Aku ini unsur terpenting dari matematika. Seluruh aspek dalam matematika berkaitan dengan diriku. Bahkan hampir setiap orang mengidentikkan matematika dengan aku.

Symbol :

Aku adalah symbol. Setiap aspek atau rumus matematika pasti dapat dinyatakan sebagai diriku. Aku mempermudah orang untuk belajar matematika. Jika tidak ada aku, tentu saja belajar matematika itu akan menjadi sangat sulit sekali. Aku dapat berupa Bahasa capital, Bahasa Yunani atau bentuk apa pun. Aku lebih luas daripada angka.

Bahasa :

Hey, sedang berbicara apa kalian ini? Semua ilmu di dunia ini tidak akan ada jika tanpa diriku. Aku adalah sarana komunikasi yang terpenting untuk dapat mentransferkan semua ilmu yang ada. Tidak hanya dalam matematika saja, namun aku juga bagian terpenting dari semua bidang ilmu.

Objek matematika 1 :

Aku adalah objek matematika 1. Aku merasa kalian meremehkan diriku. Padahal jika aku telah menjadi objek matematika, maka semua hal yang ada dan yang mungkin ada dari diriku adalah wajib untuk dipelajari. Jadi cakupan diriku begitu luas.

Objek matematika 2 :

Aku adalah objek matematika 2. Aku merasa kalian meremehkan diriku. Padahal jika aku telah menjadi objek matematika, maka semua hal yang ada dan yang mungkin ada dari diriku adalah wajib untuk dipelajari. Jadi cakupan diriku juga sangat luas.

Objek matematika 3 :

Aku adalah objek matematika 3. Aku merasa kalian telah melupakan diriku. Padahal aku juga objek matematika, maka semua hal yang ada dan yang mungkin ada dari diriku adalah wajib untuk dipelajari. Jadi cakupan diriku sama luasnya dengan kalian.

Siswa 1 :

Wahai para objek matematika, aku bingung mengapa kalian saling bertengkar?

Aku adalah subjek yang mempelajari tentang kalian. Jika memungkinkan aku sangat ingin bisa menguasai semua property dari diri kalian. Namun, apalah dayaku karena proses belajarku sangat terbatas oleh ruang dan waktu.

Siswa 2 :

Ya, siswa 1. aku juga merasa demikian. Sangat ingin aku belajar dan dapat menguasai semua objek matematika. Namun bagaimana mungkin?dalam 1 minggu aku hanya mendapat jatah belajar matematika selama 6 jam pelajaran. Tentu itu snagat kurang. Namun, pelajaran yang harus kita kuasai bukan hanya matematika saja, masih banyak yang lainnya sehinggga waktuku harus terbagi – bagi lagi.

Siswa 3 :

Aku tidak setuju dengan pendapatmu wahai siswa1 dan siswa 2. aku lebih suka belajar bebas sesuai dengan minat dan bakat ku. Aku menyukai matematika khususnya aku sangat suka dengan materi objek matematika 1. Maka aku hanya ingin focus saja pada objek matematika 1 supaya aku dapat benar – benar paham dan dapat mengaplikasikan penggunaanya secara maksimal.

Siswa 1 dan Siswa 2 bersama – sama bertanya :

Mengapa kau seenaknya begitu wahai siswa 3?

Siswa3 :

Aku tidak seenaknya. Namun aku tidak suka dengan sifat rakus. Inginnya menguasai tentang semua, namun pada akhirnya tidak ada satu materi pun yang dapat kita kuasai dengan baik. Semua menjadi hanya separo – separo saja.

Guru :

Itulah wahai siswa – siswa ku. Memang kurikulum di Negara kita mewajibkan hal yang demikian itu. Dari SD hingga perguruan tinggi, sangat banyak materi yang harus dijejalkan pada siswa. Siswa dituntut untuk dapat menguasai semuanya. Aku pun merasa telah mendzalimi siswa – siswaku karena hal itu. Namun apa yang dapat aku lakukan?aku hanya seorang guru yang berkewajiban membantu para siswaku untuk mengembangkan dirinya.

Angka, Symbol, Bahasa, dan objek matematika 1, 2 dan 3 bersama – sama :

Kalian ini sedang membicarakan apa? Kenapa kalian jadi melantur begitu? Di sini kita sedang membahas mana unsur matematika yang lebih penting di antara kami? Bagaimana menurut kalian?

Siswa 1, 2 dan 3 :

Menurutku kalian semua sama pentingnya. Satu sama lain saling melengkapi dan membutuhkan. Tidak lah mungkin kalian dapat berdiri sendiri. Misalnya saja angka. Jika tidak ada symbol dan Bahasa serta makna maka bilangan hanya merupakan jejeran angka saja yang tidak bermakna. Namun karena ada unsur – unsur yang lain maka deretan angka tersebut dapat menjadi nilai uang, data, nomor rumah, plat kendaraan, nomor seri dan lain sebagainya.

Guru :

Betul sekali para siswaku. Matematika bukan hanya tentang angka, symbol, Bahasa, objek matematika 1, 2 dan 3 saja. Namun matematika mencakup semua aspek yang ada dan yang mungkin ada dari matematika. Hal tersebut tentunya banyak sekali sampai tak hingga banyaknya. Nah, yang dapat kita lakukan hanya berusaha mencari sebanyak – banyaknya, membaca dan belajar. Untuk semua objek matematika, kalian tidak perlu mempeributkan siapa yang paling hebat di antara kalian. Justru sebaliknya, kalian harus saling bekerjasama dan bersatu padu untuk terus mengembangkan matematika. Di dunia ini tidak ada manusia sempurna. Kehebatan absolute hanya milik Allah SWT semata. Apalah arti kita di dunia ini jika kita hanya stuck seperti ini. Hati – hatilah dengan sifat sombong. Karena Allah sangat membenci hal itu.

Angka, Symbol, Bahasa, dan objek matematika 1, 2 dan 3 bersama – sama :

Baiklah kalau begitu kami telah mengerti sekarang. Terimakasih atas saranmu. Mulai sekarang kami akan kompak untuk mengembangkan ilmu matematika. Dan tentunya kami akan segera mohon ampun kepad Nya karena sifat keangkuhan kami selama ini. Semoga kami masih bisa mendapatkan ampunanNya. Amin.

Dan untuk para siswa, kami tunggu ide – ide kreatif kalian untuk mebuat kami menjadi sesuatu karya yang lebih berarti untuk mengembangkan matematika.

Siswa 1, 2 dan 3 :

Kami akan selalu berusaha untuk melakukannya. Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita semua. Amin.

1 komentar:

  1. Nina Agustyaningrum...elegimu cukup bagus yaitu dapat menggambarkan komunikasi antara unsur-unsur matematika, siswa dan guru. Tetapi ada beberapa catatan dari saya untuk mempertajam perhatian kita kepada pembelajaran matematika. Pertama, hendaklah dipegang teguh bahwa kita hanya menggunakan unsur substansi saja dari filsafat untuk berkomunikasi dengan siswa; artinya, elegi ini bukan untuk konsumsi siswa, tetapi untuk refleksi diri dan teman-teman guru atau mahasiswa. Untuk gurupun, jika belum mempelajari filsafat secara utuh bisa berbahaya dan mempersulit siswa jika digunakan kalimat-kalimat filsafat. Misalnya, kata-kata guru "yang ada dan yang mungkin ada" itu sangat sulit untuk orang awam apalagi untuk siswa. Itu hanya wacana di dalam filsafat saja. Kedua, perihal hakekat matematika, apakah engkau telah bisa merasakan terhadap pandangan bahwa matematika itu pikiran siswa, yaitu siswa sendiri sebagai matematika. Jadi siswa tidak mengambil jarak terhadap matematika, dengan demikian siswa akan. Dengan demikian memikirkan matematika tidak hanya pada jam pelajaran. Demikian semoga bermanfaat. Amien

    BalasHapus