Kamis, 28 Mei 2009

REFLEKSI AKHIR PERKULIAHAN FILSAFAT

Filsafat adalah olah pikir. Memikirkan segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Kita sebagai manusia dapat menjadi subjek maupun objek dalam filsafat. Ketika kita sedang memikirkan tentang sesuatu maka kita sedang memposisikan diri sebagai subjek, sedangkan saat kita sedang berada dalam pikiran seseorang maka kita sedang diposisikan sebagai objek. Lalu jika kita sedang memikirkan tentang diri kita sendiri, berarti kita dapat sekaligus menjadi subjek dan objek.

Awal belajar filsafat, terus terang saya sering mengalami kebingungan – kebingungan terutama dalam menangkap makna dibalik kalimat – kalimat filsafat. Mungkin juga dikarenakan saya masih kurang banyak referensi bacaan. Dalam elegi yang merupakan sarana utama saya dalam belajar filsafat pun juga masih terdapat beberapa elegi yang belum dapat saya tangkap maksudnya misalnya Elegi Menggapai Paradoks Tukang Cukur.

Mengikuti perkuliahan filsafat membuat pengetahuan saya semakin bertambah. Yang tadinya saya banyak berfikir monois kini sudah bisa memahami tentang berpikir pluralist. Yang tadinya kita berfikir bahwa 2 + 2 itu selalu sama dengan 1, kini sudah tidak begitu lagi namun bisa tergantung pada konteks pembicaraannya. Selain itu saya juga tahu tentang adanya kontradiksi – kontradiksi di dunia ini seperti yang banyak dituliskan dalam elegi. Misalnya saja elegi perbincangan para sama dan para beda, dan elegi perbincangan para bukan benar dan bukan salah.

Dalam elegi ucapan selamat jalan disebutkan bahwa filsafat itu adalah refleksi. Maka filsafat pendidikan matematika adalah refleksi terhadap pendidikan matematika, meliputi refleksi terhadap semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Tantangan kita adalah bagaimana bagaimana kita bisa memperbincangkan semua obyek-obyeknya. Maksud meperbincangkan adalah menjelaskan semua dari apa yang dimaksud dengan semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika.

Tentu saja hal ini bukan perkara mudah. Metode mengajar konvensional yang sudah membudaya pada bangsa kita garus dirombak total. Guru harus mampu menjadi fasilitator bagi siswa untuk dapat memperbincangkan semua yang ada dan yang mungkin ada. Jangan sampai guru hanya menjadi mitos bagi murid. Oleh karenanya pembelajaran konvensional yang teacher’s center harus diganti dengan tipe pembelajaran student’s center. Pertanyaan – pertanyaan, diskusi, hasil dan kesimpulan dalam belajar semuanya adalah milik siswa jadi bagaimana caranya agar siswa dapat memiliki semua kesempatan untuk mengembangkan daya pikir dan kreatifnya.

Memang banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh dengan belajar filsafat, namun jelas waktu satu semester saja itu tidak cukup. Dan kita harus selalu berhati – hati agar selalu berada dalam jalan yang lurus. Belajar filsafat membuat pikiran menjadi kritis, dari hal yang semula tidak pernah terpikir oleh kita tentang hakekatnya atau tentang kebenarannya, setelah belajar filsafat menjadi terpikir seperti itu misalnya saja tentang hakekat “aku”.

Semoga kami semua mahasiswa Bapak dapat mengaplikasikan segala pengetahuan yang kami peroleh dengan baik. Amin.

1 komentar:

  1. Nina Agustyaningrum...juga, jika kita berpegang bahwa filsafat adalah diri kita, maka bukan masalah satu minggu hanya kuliah filsafat satu kali saja. Tetapi setiap diriku berusaha berpikir kritis, itulah filsafatku, itulah diriku.

    BalasHapus